Gue waktu kecil sering dibilang anak yang pandai bergaul, gampang punya teman, bisa berteman dengan siapa saja. Karena memang begitu lah si Rudy kecil. Anak yang aktif dan banyak teman. Malah kalau ada 2 temen gue yang lagi musuhan, masing-masing dari mereka tetap berteman sama gue, kadang gue jadi “mediator” secara tidak langsung dan membuat mereka akur lagi, bukannya sombong tapi ya memang begitu adanya. Circle pertemanan gue waktu kecil terutama ketika SD itu ada banyak banget. Dimulai dari teman-teman di sekolah, teman-teman komplek rumah, teman-teman kolega bokap, teman-temannya saudara/sepupu gue, bahkan berteman juga sama anak-anak komplek lain dan anak-anak kampung lain. Banyak banget lah teman gue waktu dulu.
Lalu ketika dewasa, kok gue tidak sepandai dulu dalam bergaul? Gue yang waktu kecil semangat dan senang sekali ketika ketemu orang baru, saat dewasa kok rasanya males ya? Circle pertemanan gue sangat sedikit, paling teman-teman kantor walau gak akrab-akrab banget, teman di komunitas, itu juga cuma kenal satu atau dua orang, teman di komplek rumah malah gak ada. Cuma sebatas basa-basi sama tetangga dan Pak RT. Kenapa pas sudah dewasa teman kita malah makin dikitj?
Setelah berpikir selama 5 menit akhirnya gue menemukan jawabannya. Jadi, ketika gue kecil semua teman-teman gue itu berteman dengan sangat tulus, tanpa beban, tanpa tekanan, dan tanpa “ada maunya”. Kita berteman ya buat main bareng, main tepok gambar, sepedahan, layangan, main nintendo, dan banyak lagi. Gak ada tuh niatan lain selain untuk bersenang-senang. Karena banyak dari kami dulu sudah capek dengan sekolah, malas diam di rumah, akhirnya kita saling bertemu dan bersenang-senang melepas penat.
Permasalahan pertemanan ini mulai berkurang ketulusannya ketika dewasa kita sudah diberi beban yang lebih banyak, tanggung jawab yang lebih besar dengan segala urusan dewasa lainnya yang membuat kita untuk mendingan urusin diri sendiri dulu aja deh. Itu lah mengapa ketika mencoba berteman dengan orang baru ketika dewasa cenderung sulit. Karena terkadang ketika ada teman beru ternyata dia “ada maunya”, atau ada teman yang bermuka dua, dan masih banyak lagi alasan pertemanan yang berujung kecewa. Makanya ada yang bilang semakin dewasa pertemanan kita itu semakin sedikit, karena udah malas cari teman baru. Kenapa malas? Ya karena banyak hal tadi. Jadinya ada yang lebih memilih untuk sendiri, atau cuma punya sedikit teman tapi mereka menyenangkan. Pertimbangan untuk memikirkan kelangsungan hidup sendiri itu pula yang menjadi filter untuk memilih teman saat dewasa.
Gue sih berharap gue di umur gue yang 35 ini gue bakal bertemu beberapa teman baru yang tulus untuk bersenang-senang dengan kesenangan yang sama.
Leave a comment