Apa sih bedanya planet dan bintang? Pernah kepikiran gak? Mungkin dulu waktu SD pernah diberi tahu guru, tapi karena gue gak pernah menyimak pelajaran dari kecil karena lebih memilih untuk main akhirnya sampai sekarang gue gak tau apa perbedaan keduanya sampai keponakan gue yang kecil menanyakan hal tersebut saat liburan tahun baru. Namanya anak kecil selalu menanyakan pertanyaan unik dan gue namanya orang dewasa gak mau kelihatan bodoh di mata bocil, maka secepat kilat gue keluarkan smartphone dari saku celana dan langsung googling perbedaan keduanya. Lantas menurut google perbedaannya adalah bintang memancarkan cahaya sendiri sedangkan planet tidak, bintang ukurannya lebih besar daripada planet, planet bergerak mengelilingi bintang sedangkan bintang mengalami pergerakan yang sangat sedikit, suhu bintang pun cenderung lebih tinggi dari planet, dan tentu saja gue menjelaskannya dengan lebih sederhana lagi biar anak umur 7 tahun ini mengerti.
Radikal. Banyak orang masih salah mengerti tentang apa itu radikal, bahkan kalau kalian googling pun si mesin pencari yang canggih ini memberikan jawaban yang sama dengan kebanyakan orang yang salah. Bahwa menurut pengertian mereka radikal itu adalah berbeda dari umum atau sangat bertentangan dengan yang orang umum ketahui. Padahal radikal sendiri itu dari bahasa latin yaitu Radicalis yang artinya akar atau dasar. Jadi hal-hal radikal itu adalah hal-hal yang sangat mendasar. Pertanyaan-pertanyaan radikal itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar. Siapa yang suka mengajukan pertanyaan radikal? Salah satunya ya anak kecil. Mereka selalu menanyakan pertanyaan yang sangat basic seperti “Kenapa jari kita ada lima?”, “Apa itu waktu?”, “Kenapa harus sekolah?” dan semacamnya. Nah itu pertanyaan radikal. Jadi kalau punya pemikiran radikal itu berarti punya pemikiran yang mendasar bukan pemikiran yang ngasal. Jangan sampai salah pengertian lagi tentang radikal, jadi ketahuan pemikirannya gak mendasar.
Ternyata membaca buku fiksi seperti novel atau kumpulan cerpen itu sangat penting. Selama satu setengah tahun ke belakang itu gue hanya membaca buku-buku non-fiksi saja, seperti buku tentang self-development, financial, history, science atau kadang neuro-science, laws dan semacamnya lah karena memang gue suka banget buku-buku non-fiksi macam itu. Tapi ada masanya gue burnout dan bosan sekali dengan buku-buku itu, ada masanya juga gue gampang ngantuk membacanya. Akhirnya gue berpikir untuk refreshing sebentar dari non-fiksi dan mencoba untuk membaca beberapa buku fiksi, terutama novel. Salah satunya gue membaca 2 novel detektif karangan Keigo Higashino, punya Vivian (Head of Program Dept) yang pertama judulnya The Devotion of Suspect X dan yang kedua Angsa dan Kelelawar. Sebagai orang yang tumbuh dengan membaca manga Detektif Conan berikut animenya maka novel karangan Keigo ini sangat menarik perhatian gue dan gampang sekali untuk diselesaikan dalam waktu satu sampai dua hari, dan gue juga orang yang sangat suka dengan cerita misteri atau detektif, karena kalau nonton Netflix pun gue lebih sering menonton dokumenter Crime and Investiagion atau Unsolved Mystery. Memang terasa sekali perbedaannya ketika membaca buku fiksi. Setelah selesai membaca kedua novel tersebut maka gue mencoba kembali membaca buku non-fiksi, yang sekarang gue baca ulang adalah buku Sapiens karangan Yuval Noah Harari, betul saja seketika narasi di kepala gue berubah yang tadinya sangat monoton karena kebanyakan baca non-fiksi menjadi narasi yang memiliki storytelling dan intonasi yang lebih dinamis. Entah ini cuma gue saja yang mengalami tapi dengan membaca buku fiksi mapu mengubah narasi di kepala gue ketika membaca buku non-fiksi, dan gue suka itu.
Leave a comment