One thing you never know about me

Mungkin gak banyak yang tau tentang ini, selain keluarga saya, paling cuma orang-orang yg paling dekat dengan saya tentang hal ini. Kalau secara kasat mata mungkin gak keliatan, ataupun kalo gak saya kasih tau juga gak akan ketauan, kecuali jika situasi yg menginginkan. 


Jadi begini ceritanya, sewaktu saya masih kecil sekitar umur 4-5 tahun, sama seperti anak-anak yang lain pasti diajarin membaca, menghitung, menggambar, mewarnai, dan lain-lain lah, nah sewaktu saya sedang mewarnai, saya sering kena marah sama ayah saya, karena saya suka menggunakan warna yang tidak sesuai dengan obyek yang sebenarnya. Mungkin kalo obyek yang asli berwarna coklat, saya kasih warna merah, atau yang warna kuning saya kasih warna hijau, begitu terus sampai saya SD bahkan SMP.

Saya itu lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, gak ada yang spesial, gak begitu kental darah seni yang lahir di kalangan keluarga saya, ayah saya hanya pegawai BUMN, namun beliau sangat suka dengan sastra, beliau selalu membuat cerpen dan puisi, bahkan sempat membuat cerpen untuk salah satu surat kabar di negeri ini. Ibu saya dulu seorang guru bahsa Inggris, sampai beliau pensiun setelah menikah, dulu pun ibu saya pernah menjadi penari untuk acara pernikahan di kampung, yah kalau di Minangkabau Sumatera Barat ataupun daerah lainnya pasti ada acara tariannya pada suatu pesta pernikahan. Walaupun begitu, itu hanya sambilan saja, tidak dilakukan secara serius, dan tidak ada yang bisa menggambar di keluarga saya, kecuali saya. Karena saya belajar menggambar secara otodidak, dan tidak diajari siapapun, karena keluarga saya bukan keluarga seniman tulen. Sejak kecil saya memang senang menggambar, walaupun harus mengorbankan nilai pelajaran sewaktu di bangku sekolah dulu (:P)

Sekarang kita percepat ceritanya πŸ˜€
Cerita singkatnya, saya sudah lulus SMP nih, dan masih senang menggambar, dan berniat masuk ke SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa) di Bandung atau sekarang namanya SMK14, waktu tes masuk, sepertinya lancar-lancar saja, sampai pada suatu tes dimana saya harus melihat berbagai macam ukuran LINGKARAN dengan jumlah yang banyak, ukuran berbeda-beda, dan warna yang macam-macam. Saya bisa melihat dengan JELAS perbedaan warna-warna pada lingkaran itu, tapi saya tidak bisa melihat kalau sebenarnya lingkaran-lingkaran itu membentuk sebuah ANGKA *doh… yah sudah, tapi saya tetap keterima masuk ke SMSR, tapi pada saat itu saya tidak betah, akhirnya saya pun keluar dari sekolah itu, dan pindahke SMK – INFORMATIKA Bandung. Saya senang sekali bisa bersekolah disitu, karena banyak ilmu baru, dan teman-teman yang baik (hehehehe :D)
Dan saya sangat bersyukur bisa bertemu dangan seorang yang bernama (Alm.) Agus Setiawan, beliau itu yang membimbing saya selama di SMK dan yang mengenalkan saya kepada yang namanya DESAIN GRAFIS, selama bersekolah disitu saya diajari banyak seputar DESAIN GRAFIS (terima kasih banyak pak), mulai dari konsep, ide, aplikasi pendukung, dan penerapannya. Saya sangat suka desain grafis, kebetulan juga tetangga di sebelah rumah saya ada mahasiswa dari STSI Bandung, bernama Tubagus Maulana Yusuf, atau biasa saya panggil Mas Bintang πŸ™‚
Beliau itu juga yang mengajari saya seputar software Desain Grafis, maka daripada itu sayapun bertekad begitu lulus dari SMK saya akan melanjutkan ke jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual). Maka lulus lah saya dari SMK (Alhamdulillah) lalu saya pun berniat masuk ke FSRD-ITB atau DKV-ITENAS, tapi karena harus ada surat keterangan BEBAS BUTA WARNA, maka sayapun pergi ke daerah Cicendo, karena disitu ada klinik spesialis mata yang bagus.

Sama seperti tes waktu masuk SMSR, lagi-lagi saya dihadapkan pada lingkaran-lingkaran itu, dan saya tidak dapat melihat angkanya. Dan ya ampun, ternyata saya menderita BUTA WARNA PARSIAL, duh disitu saya merasa sangat STRESS bin FRUSTASI, gimana enggak, saya mau kuliah dan belajar Desain tapi saya sendiri buta warna parsial, itu makanya kenapa saya selalu salah kalau mewarnai obyek, dan keluarga sayapun baru tau tentang itu, padahal waktu saya di SMK saya sering mengerjakan pekerjaan DESAIN, bahkan saya pernah mengerjakan beberapa DESAIN COVER BUKU untuk GRAMEDIA, dan saya sendiri mampu mencampurkan warna-warna sehingga terlihat harmonis, kaget? jelas saya kaget, sedih? Oh, maaf saya tidak sedih akan hal ini, justru saya bangga! karena saya berpikir kalau saya menderita buta warna parsial, lalu kenapa dari dulu saya bisa mengerjakan pekrjaan seputar DESAIN? malahan saya bisa dapat penghasilan dari situ. Oke, keluarga pun sudah tidak memikirkan hal itu, sekarang yang ada di pikiran saya hanyalah SAYA INGIN SEKALI BELAJAR DESAIN APAPUN CARANYA!

Nah, disini kecurangan itu terjadi, saya meminta saudara saya ke dokter mata didekat rumah, dan melakukan test BEBAS BUTA WARNA, tapi menggunakan nama saya πŸ˜€
Lalu saya pun bisa masuk ke jurusan DKV di ITENAS, hmm… curang? Iya soalnya mau gimana lagi, toh saya sangat ingin sekali belajar desain. Namun rasa curang menghantui saya setiap hari, sampai akhirnya sayapun keluar (secara tidak resmi) dari ITENAS itu. Makanya saya menjadi ALUMNUS (Alumni gak LULUS) hehehe πŸ˜€

Ayah saya pun sedih, beliau berpikir kenapa orang yang buta warna itu gak boleh belajar desain, karena kalau mau masuk jurusan desain ada tes buta warna, “Ini namanya DISKRIMINASI!” ucap ayah saya, dan saya pun sangat SETUJU dengan hal itu. Tapi yah sudah lah, akhirnya setalah saya keluar, saya pun mencari tempat belajar DESAIN/SENI yang tidak harus ada tes buta warna, akhirnya pilihan pun jatuh di Quantum College, yah disitu tidak perlu tes buta warna, cukup bayar biaya pendaftaran, dan kita pun bisa belajar ANIMASI baik itu 2D atau 3D. Saya sangat bersyukur sekali bisa belajar ANIMASI disini, karena itu impian saya sjak kecil, dan saya dan teman-teman pun berhasil membuat beberapa ANIMASI 2D dan 3D.

Setelah itu saya pun bertemu dengan pak Okky, beliau adalah pendiri Komikara Rumah Komik, dan beliaupun memberikan saya beberapa nasihat hebat, “gak apa-apa, gak usah sedih, walaupun kamu gak bisa jadi desainer, tapi kamu masih bisa jadi seorang artist (baca seniman)” dengan beberapa alasan yang masuk akal, katanya “kalau desainer itu kan harus bisa melihat apa yang dilihat oleh klien, kalau kamu melihatnya dengan warna berbeda, bisa repot kan?” “makanya kamu cocok jadi seorang artist” hmmm… “betul juga” πŸ˜€

Sejak saat itu pun saya bertekad ingin belajar SENI di luar negeri, karena kalau di Indonesia sudah pasti gak bisa, karena terhalang oleh tes buta warna, tekad saya sudah bulat, dan sayapun sekarang mulai menabung untuk biaya belajar SENI disana. Tapi, gimana kalau di luar neger juga ada test buta warna? Belum tentu, karena pasti berbeda-beda tiap negara. Karena waktu kakak saya Arsya Ridwan (teman yang sudah saya anggap seperti kakak kandung) pernah kuliah desain di Singapura, katanya di sana gak ada tes butawarna, hanya tes kesehatan saja, dan kamu bisa langsung masuk. Makanya saya kepingin belajar desain di luar negeri.

Jadi begitulah isinya ONE THING YOU NEVER KNOW ABOUT ME, yaitu kalau saya adalah sorang penderita BUTA WARNA PARSIAL. Hahahaha πŸ˜€

Kalau teman-teman punya info seputar pendidikan SENI di luar negeri, mohon beritau saya yah, berapapun biayanya, seberapapun jauhnya, akan saya kejar πŸ˜€

Sekian dan Terimakasih

saya mau tidur dulu πŸ™‚

6 responses to “One thing you never know about me”

  1. Archie-The-RedCat Avatar
    Archie-The-RedCat

    wow hebat!! semangat! sayah juga pengen ke jerman..gimana pun caranyah akan sayh kejar!! tapi buat liburan.. serem tinggal disana, ntar kayak pilem hostel.. hiiiy

    Like

  2. Makasih banyak RC :)Lho… kok tau kalo saya mau ke Jerman? Hehehe :Dsaya juga pengen liburan disitu, sekaligus belajar hihihi… wah, sayah belum nonton pilem hostel euy… πŸ˜›

    Like

  3. Semangat kak!!!Karena masih punya banyak impian, pasti deh segala rintangan sekalipun bakal cuma dianggep kerikil..Best wishes for you…

    Like

  4. Thank's Phili :DBest wishes for you too…dan semoga harapanmu itu terkabul yah…Hahahaha XD

    Like

  5. Mestinya Pemerintah bisa Merobah Peraturan tentang buta warna ini… Kasihan.. Kita semua punya persamaan HAK di negara ini.. Buta warna Bukan Cacad Total… Kenapa Para Penderita Tidak Memperoleh Kesempatan?Sayang dengan Cita2 yg di impikan dari kecil…………..INI HARUS D ROBAH….!!!!

    Like

  6. Iya uda buyung, semoga kedepannya bisa diperbaiki lagi sistem pendidikan di negara kita ini πŸ™‚

    Like

Leave a comment